Malam merasuk cepat setelah kumandang adzan magrib menggema, suasana gelap pun mulai mewarnai bumi, temaram sinar rembulan terlihat muram tertutup gumpalan awan pertanda hujan akan kembali turun. Sudah hampir satu bulan ini musim penghujan hadir tanpa sadar akan musimnya, barangkali ini lah salah satu dampak dari isu pemanasan global, cuaca dengan acaknya silih berganti musim, hembusan angin pun terasa semakin dingin dibuatnya.
Dan, akhirnya hujan pun turun seperti tak sabar menanahan derasnya, tiba-tiba, tanpa pesan, dan itu pun artinya kami sekeluarga harus bersiap-siap berkumpul di pojokan rumah, berlindung dari siraman air hujan yang sudah tidak mampu menahan atap rumah reyot keluargaku. Ayah, Ibu, adikku, dan aku terpaksa harus lelap dalam peraduan yang sangat dramatis, bertumpuk dalam satu ranjang, dingin dan lembab.
"Sabar ya anakku, jika besok ayah memiliki uang lebih, kita perbaiki loteng rumah ini, ya…" kata-kata ini yang setiap kali ayah utarakan jika hujan sudah membuat atap rumah kami mengaga karena derasnya, tapi kenyataannya kondisi perekonomian keluarga kami yang diketuai oleh ayah benar-benar tidak mampu meng-anggarkan sedikit dana untuk memperbaikinya. Entah alasan apa, tapi untuk anak seusiaku kini yang masih duduk dibangku SMP, aku mulai paham. Ayah hanya seorang buruh pabrik yang sebagian nyawa dan haknya harus dipaksa berkompromi dengan secarik kertas kontrak kerja dengan perusahaan pabrik tempatnya bekerja.
Gaji pokok ayah yang biasa diterimanya setiap tanggal 28 harus dibagi-bagi dengan segala macam kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolah aku dan adikku yang semakin hari semakin banyak ragamnya meskipun pemerintah dengan muluknya mengabarkan pendidikan gratis yang ternyata hanya omong kosong belaka, sampai biaya makan kami sekeluarga, belum lagi biaya sewa rumah reyot nan bocor ini harus pula ayah bagi dari gajinya yang padahal tidak seberapa tersebut. Dan, dari gaji ayah yang sebatas tarif Upah Minimun Kota, seketika lenyap dalam pembagian jatah masing-masing kebutuhan pokok keluarga kami. "Hidup itu perjuangan, perjuangan dalam kesulitan, apalagi dalam kondisi bangsa seperti saat ini, tapi kita harus bertahan" keluhan nan bijak yang biasa ayah lontarkan ketika kepenatan sudah mengerutkan kening dan memberatkan pundaknya.
"Ayah, ibu guru bilang, kami wajib mengikuti study tour ke Jogja semester ini" obrolan polos adikku sambil menghampiri ayah yang baru saja pulang dari kerjanya, tanpa memperdulikan kondisi ayah yang terlihat begitu lusuh dan penat. "Oya…?waah…asik donk kamu sayang, jalan-jalan ke Jogja, apa ibu guru bilang berapa banyak biaya yang harus dibayar?" tanpa memperdulikan rasa penatnya, sambil memangku tubuh mungil adik perempuanku dan mengusap rambut halusnya, ayah mencoba menyembunyikan sedikit keluhannya akan kenyataan harus ada biaya lagi yang beliau bayarkan. "Kata ibu guru, lima ratus ribu rupiah, Yah…" lebih polos adikku merajuki ayah sambil kepalanya sengaja disandarkan ke dada bidang ayahku. "Baiklah, nanti kalau ayah ada rejeki, kita bayar ya sayang, sekarang kamu lekas belajar, ayah mau mandi" sambil melemparkan kecupan hangat di dahi adikku, ayah betul-betul sempurna kulihat, dalam kondisi terpuruk pun beliau mampu melakukan yang terbaik bagi anaknya, berusaha meskipun terasa berat pasti. "Asik…aku ke Jogja, soalnya ini wajib, yah…ibu guru bilang kalau gak ikut study tour aku gak lulus semester ini" adikku kegirangan karena rajukannya berusaha dipenuhi, meski dia tidak sadar bahwa dia sudah semakin menambah beban ayah.
"Kontrak kerjaku akan habis akhir bulan depan Ma…aku harus mencari tempat kerja baru, gara-gara pemerintah, dewan perwakilan kita yang terhormat itu, dan Asosiasi Pengusaha mengumumkan revisi undang-undang ketenagakerjaan, jadi, kantor sudah mengikuti hasil revisi undang-undang itu padahal masih bentuk draft revisi, belum di syahkan. Menurut HRD, tidak ada penguat alasan perusahaan untuk memperpanjang kontrak kerjaku berdasarkan isi revisi undang-undang itu karena kontrakku sudah memasuki tahun ke 5. Pertiwi harus study tour ke Jogja semester ini,hhhh…kemana harus kucari uang tambahan, loteng rumah bocor saja baru mampu kutambal dengan triplek seadanya" terdengar keluhan ayah pada ibu yang tak sengaja kudengar ketika ku melewati kamar mereka. "Tuhan, betapa beratnya beban yang harus orangtua ku pikul, aku yang masih kecil ini hanya mampu mendengar keluhannya saja" gumamku dalam hati.
Akhir Maret, 2006
"Hari ini rapat koordinasi kita terakhir sebelum besok tanggal 1 April kita turun ke lapangan, saya harap kawan-kawan betul-betul mempersiapkan diri, kita berada dalam satu komando dan satu kesatuan, gerakan kita adalah cara terakhir untuk menyadarkan pemerintah, Dewan Perwakilan dan pengusaha congkak itu yang seenaknya mengebiri hak-hak kita sebagai buruh, kita tidak sendirian, semua gerakan buruh akan bersatu pada 1 April nanti, sehingga kita para buruh akan melakukan mogok kerja pada hari itu juga."
Ayahku didaulat oleh teman-teman sekerjanya untuk memimpin gerakan mereka dalam rencana demo besar-besaran seluruh buruh pada tanggal 1 April nanti, terdengar suara lantang ayah ketika memimpin rapat yang dilakukan didepan teras rumah kami, meskipun sempit tapi tidak mengurungkan semangat ayah dan teman-temannya untuk melakukan rapat. Ada sebuah kebanggaan dalam hatiku melihat ayah yang begitu berapi-api memimpin rapat malam itu, demi mendapatkan haknya kembali, ayah beserta teman-temannya rela meluangkan sebagian waktu mereka dalam keadaan lelah sekalipun sepulang bekerja, demi sebuah kata Adil!.
Sebetulnya, ada sebuah ketakutan ayah ketika dipercayakan teman-temannya untuk didaulat sebagai koordinator lapangan dalam rencana demonstrasi diawal bulan April nanti, karena ada sebuah undang-undang yang dapat menyudutkan posisi ayah jika sampai moment demonstrasi nanti berjalan tidak sesuai dengan rencana dan strategi yang sudah dikoordinasikan selama beberapa hari oleh mereka. Dengan sengaja aku mengikuti pemberitaan di beberapa media yang memuat tentang segala hal mengenai revisi undang-undang ketenagakerjaan yang akan ditentang oleh ayahku beserta teman-temannya.
"Pasal 142 ayat 1 : Mogok kerja yang dilakukan tidak memenuhi ketentuan adalah mogok kerja tidak sah.
Revisi : Mogok kerja tidak sah dapat di PHK tanpa pesangon".
"Jangan kamu liatin ke ibumu ya, hasil print berita yang kamu dapetin dari internet ini, kasian ibumu jika dia tau dampak dari demonstrasi yang akan ayah lakukan nanti, doakan saja usaha ayah ini akan berjalan lancar, ya…" reaksi ayah ketika kuperlihatkan hasil pantauanku di media atas pemberitaan revisi undang-undang ketenagakerjaan tersebut, ayah begitu mencermati setiap detail isi dan revisi undang-undang no 13 tahun 2003 itu yang benar-benar patut ditentang oleh buruh mana pun di negeri ini.
1 April 2006
Tanggal yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba, salah satu gerakan mogok kerja yang dilakukan buruh seluruh negeri ini akan dikepalai oleh ayahku sendiri, mereka bergerak serentak, bersatu dalam satu kehendak, berkumpul untuk meneriakan keadilan atas ketidakadilan yang sangat ironis. Ketidakadilan dalam sebuah sistem yang sengaja dibuat oleh pemerintah tempat mereka bernaung, ketidakadilan yang disusun oleh wakil mereka dalam parlemen kehormatan.
Yel-yel perlawanan seretak diteriakan oleh para demonstran, mereka berarak menuju rute-rute yang sudah dikoordinasikan, mulai dari kantor pusat tempat mereka bekerja, istana nagara kepresidenan sampai rute terakhir, yaitu gedung tempat para wakil terhormat mereka sebagai rakyat berkumpul membuat semua konsep revisi undang-undang yang sama sekali jauh dari keberpihakan terhadap rakyat.
Masing-masing koordinator lapangan serta merta bergantian melakukan orasi singkat menjelaskan tuntutan-tuntutan mereka. Blokade satuan polisi anti huru hara terus dengan sigap memperhatikan setiap gerak gerik para demonstran jika sewaktu-waktu bisa rusuh meski mereka sama sekali tidak menyerah walau rintik hujan sudah habis membasahi tubuh mereka, yah… hujan memang tidak akan pernah mengerti artinya perjuangan dan hak.
"Wapres : Revisi Rancangan Undang-Undang tenaga kerja jalan terus" judul berita pertama yang aku baca pada saat aku buka salah satu website berita online di warnet tempat biasa aku menghabiskan uang belanja yang biasa ibu berikan jika aku pergi ke sekolah, sengaja ku sisihkan karena aku ingin sebagai generasi muda yang besar dalam era globalisasi seperti saat ini dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah, aku tetap bisa dan tidak asing dalam hal teknologi.
Meskipun aku sama sekali tidak terlibat dalam perhelatan demonstrasi yang saat ini tengah dilakukan oleh ayahku beserta teman-teman buruhnya tapi, membaca judul dan mencoba memahami semua isi berita mengenai revisi undang-undang ketenagakerjaan tersebut, emosiku sedikit tersulut. Jadi, dimanakah pemerintahan yang berdasarkan sistem demokrasitasi ini? kemanakah makna dari demokrasi yang semuanya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat itu? terkadang aku tidak habis mengerti dengan teori-teori kebangsaan yang aku dapatkan dibangku sekolah dengan kondisi yang sering kudengar dari keluhan-keluhan ayah.
****************************
Hari ini, udara pagi semakin terasa dingin, lagi-lagi aku berfikir, apakah ini dampak dari isu pemanasan global?kotaku tidak pernah merasakan udara sampai sedingin ini sebelumnya, yah… semua berubah tanpa pesan, tapi kehidupanku sekeluarga tidak berubah, ayah terus bekerja sebagai buruh kontrak dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya.
Ayah terkena PHK dari tempat kerjanya dulu, tanpa diberikan pesangon ataupun basa-basi sekedarnya sebagai tanda loyalitas selama terpaksa menjadi karyawan kontrak dari perusahaan. Beliau dikeluarkan sebelum waktunya karena dituduh sebagai pembelot karena menggerakkan karyawan lain untuk berdemonstrasi pada 1 April lalu.
Revisi undang-undang yang sempat membawa malapetaka bagi ayah, benar-benar sudah di syahkan, perjuangan ayah beserta teman-temannya sama sekali tidak berpengaruh bagi pemerintah dimana seharusnya melindungi rakyatnya, khususnya rakyat kecil yang benar-benar butuh untuk mendapatkan perlindungan lebih. Perjuangan ayah beserta teman-temannya sama sekali tidak berpengaruh bagi wakil-wakil mereka di parlemen, suara lantang mereka sama sekali tidak terdengar, meskipun barangkali ayah beserta teman-teman buruhnya yang lain adalah penyumbang suara bagi salah satu wakil mereka tersebut yang tengah duduk terhormat digedung perwakilan rakyat. Bapak-bapak, Ibu-ibu… kalian sudah mempermainkan nasib ayahku, kami sekeluarga, dan seluruh buruh tak berdaya berserta seluruh keluarga mereka, juga.
>>>> kutipan
*http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/31/time/233227/idnews/568444/idkanal/10
*http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/29/time/115439/idnews/568444/idkanal/10