++ henceumusyeu ++

– Semua yang terasa, teralami, bahkan termaknai –

25 tahun yang lalu

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 8:52 pm on Wednesday, June 18, 2008

Dua puluh lima tahun yang lalu, jika boleh aku
membayangkan kondisi mama, pasti tengah dalam keadaan perut buncit
berisikan janin yang kini menjadi aku, mulas tak karuan… berjalan
tidak senormal manusia lain yang tidak tengah hamil.

Ritualnya
mungkin akan sama dengan ibu-ibu lain yang akan segera mengeluarkan
janin yang tengah dikandungnya, diantar sang suami, bertemu dengan
dokter serta suster-suster yang akan menuntun mama untuk mengeluarkan
aku.

18 Juni 1983, kira-kira di pertengahan antara siang menuju
sore, teriakan mungilku menggema memekaki ruangan bersalin di salah
satu rumah sakit Bukittinggi, Sumbar itu… bisikan merdu Adzan tanda
haru papa mungkin kala itu sedikit menenangkan tangisan mungilku.
Yah… mungkin ini sepenggal kisah yang sedikit aku serap dari memory
mama ketika bercerita tentang kelahiranku.

Mendapati jenis
kelaminku yang berbeda dengan ke tiga kakak-kakakku, mama-papa
sekeluarga begitu bangga, garis keturunan Minang yang melekat di budaya
yang mereka bawa, akan tetap lestari…

Kini, sudah seperempat
abad aku bernafas di dunia yang telah Tuhan titipkan melalui kedua
orangtuaku… Terimakasih mama-papa sudah menjaga titipan Tuhan ini
sehingga aku mampu untuk bertahan sampai detik ini.

Dan
bahagianya aku masih bisa mendapati kebahagiaan kalian menimang
cucu-cucu, meski belum mendapati cucu dari aku (nikah aje belon
kaleeee…wkkkk), dan tersenyum melihat aku sudah sebesar sekarang,
bukan gadis kecil lagi..hehehe

note : Makasih buat teh Okky aka Sastwawiguna buat cerpennya, kado teranyar selama ultah neh… hehehe
Juga
makasih buat temen-temen, sahabat-sahabat yang udah merelakan waktunya
buat ngucapin ultah gw, doa kalian berarti banget, sumpahhhh… apalagi
doa soal jodohnya… wkkkkkkkk

you’ve gotta be kidding me, versi perjuangan :D

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 9:43 pm on Wednesday, March 26, 2008

Malam merasuk cepat setelah kumandang adzan magrib menggema, suasana gelap pun mulai mewarnai bumi, temaram sinar rembulan terlihat muram tertutup gumpalan awan pertanda hujan akan kembali turun. Sudah hampir satu bulan ini musim penghujan hadir tanpa sadar akan musimnya, barangkali ini lah salah satu dampak dari isu pemanasan global, cuaca dengan acaknya silih berganti musim, hembusan angin pun terasa semakin dingin dibuatnya.

Dan, akhirnya hujan pun turun seperti tak sabar menanahan derasnya, tiba-tiba, tanpa pesan, dan itu pun artinya kami sekeluarga harus bersiap-siap berkumpul di pojokan rumah, berlindung dari siraman air hujan yang sudah tidak mampu menahan atap rumah reyot keluargaku. Ayah, Ibu, adikku, dan aku terpaksa harus lelap dalam peraduan yang sangat dramatis, bertumpuk dalam satu ranjang, dingin dan lembab.

"Sabar ya anakku, jika besok ayah memiliki uang lebih, kita perbaiki loteng rumah ini, ya…" kata-kata ini yang setiap kali ayah utarakan jika hujan sudah membuat atap rumah kami mengaga karena derasnya, tapi kenyataannya kondisi perekonomian keluarga kami yang diketuai oleh ayah benar-benar tidak mampu meng-anggarkan sedikit dana untuk memperbaikinya. Entah alasan apa, tapi untuk anak seusiaku kini yang masih duduk dibangku SMP, aku mulai paham. Ayah hanya seorang buruh pabrik yang sebagian nyawa dan haknya harus dipaksa berkompromi dengan secarik kertas kontrak kerja dengan perusahaan pabrik tempatnya bekerja.

Gaji pokok ayah yang biasa diterimanya setiap tanggal 28 harus dibagi-bagi dengan segala macam kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolah aku dan adikku yang semakin hari semakin banyak ragamnya meskipun pemerintah dengan muluknya mengabarkan pendidikan gratis yang ternyata hanya omong kosong belaka, sampai biaya makan kami sekeluarga, belum lagi biaya sewa rumah reyot nan bocor ini harus pula ayah bagi dari gajinya yang padahal tidak seberapa tersebut. Dan, dari gaji ayah yang sebatas tarif Upah Minimun Kota, seketika lenyap dalam pembagian jatah masing-masing kebutuhan pokok keluarga kami. "Hidup itu perjuangan, perjuangan dalam kesulitan, apalagi dalam kondisi bangsa seperti saat ini, tapi kita harus bertahan" keluhan nan bijak yang biasa ayah lontarkan ketika kepenatan sudah mengerutkan kening dan memberatkan pundaknya.

"Ayah, ibu guru bilang, kami wajib mengikuti study tour ke Jogja semester ini" obrolan polos adikku sambil menghampiri ayah yang baru saja pulang dari kerjanya, tanpa memperdulikan kondisi ayah yang terlihat begitu lusuh dan penat. "Oya…?waah…asik donk kamu sayang, jalan-jalan ke Jogja, apa ibu guru bilang berapa banyak biaya yang harus dibayar?" tanpa memperdulikan rasa penatnya, sambil memangku tubuh mungil adik perempuanku dan mengusap rambut halusnya, ayah mencoba menyembunyikan sedikit keluhannya akan kenyataan harus ada biaya lagi yang beliau bayarkan. "Kata ibu guru, lima ratus ribu rupiah, Yah…" lebih polos adikku merajuki ayah sambil kepalanya sengaja disandarkan ke dada bidang ayahku. "Baiklah, nanti kalau ayah ada rejeki, kita bayar ya sayang, sekarang kamu lekas belajar, ayah mau mandi" sambil melemparkan kecupan hangat di dahi adikku, ayah betul-betul sempurna kulihat, dalam kondisi terpuruk pun beliau mampu melakukan yang terbaik bagi anaknya, berusaha meskipun terasa berat pasti. "Asik…aku ke Jogja, soalnya ini wajib, yah…ibu guru bilang kalau gak ikut study tour aku gak lulus semester ini" adikku kegirangan karena rajukannya berusaha dipenuhi, meski dia tidak sadar bahwa dia sudah semakin menambah beban ayah.

"Kontrak kerjaku akan habis akhir bulan depan Ma…aku harus mencari tempat kerja baru, gara-gara pemerintah, dewan perwakilan kita yang terhormat itu, dan Asosiasi Pengusaha mengumumkan revisi undang-undang ketenagakerjaan, jadi, kantor sudah mengikuti hasil revisi undang-undang itu padahal masih bentuk draft revisi, belum di syahkan. Menurut HRD, tidak ada penguat alasan perusahaan untuk memperpanjang kontrak kerjaku berdasarkan isi revisi undang-undang itu karena kontrakku sudah memasuki tahun ke 5. Pertiwi harus study tour ke Jogja semester ini,hhhh…kemana harus kucari uang tambahan, loteng rumah bocor saja baru mampu kutambal dengan triplek seadanya" terdengar keluhan ayah pada ibu yang tak sengaja kudengar ketika ku melewati kamar mereka. "Tuhan, betapa beratnya beban yang harus orangtua ku pikul, aku yang masih kecil ini hanya mampu mendengar keluhannya saja" gumamku dalam hati.

Akhir Maret, 2006

"Hari ini rapat koordinasi kita terakhir sebelum besok tanggal 1 April kita turun ke lapangan, saya harap kawan-kawan betul-betul mempersiapkan diri, kita berada dalam satu komando dan satu kesatuan, gerakan kita adalah cara terakhir untuk menyadarkan pemerintah, Dewan Perwakilan dan pengusaha congkak itu yang seenaknya mengebiri hak-hak kita sebagai buruh, kita tidak sendirian, semua gerakan buruh akan bersatu pada 1 April nanti, sehingga kita para buruh akan melakukan mogok kerja pada hari itu juga."

Ayahku didaulat oleh teman-teman sekerjanya untuk memimpin gerakan mereka dalam rencana demo besar-besaran seluruh buruh pada tanggal 1 April nanti, terdengar suara lantang ayah ketika memimpin rapat yang dilakukan didepan teras rumah kami, meskipun sempit tapi tidak mengurungkan semangat ayah dan teman-temannya untuk melakukan rapat. Ada sebuah kebanggaan dalam hatiku melihat ayah yang begitu berapi-api memimpin rapat malam itu, demi mendapatkan haknya kembali, ayah beserta teman-temannya rela meluangkan sebagian waktu mereka dalam keadaan lelah sekalipun sepulang bekerja, demi sebuah kata Adil!.

Sebetulnya, ada sebuah ketakutan ayah ketika dipercayakan teman-temannya untuk didaulat sebagai koordinator lapangan dalam rencana demonstrasi diawal bulan April nanti, karena ada sebuah undang-undang yang dapat menyudutkan posisi ayah jika sampai moment demonstrasi nanti berjalan tidak sesuai dengan rencana dan strategi yang sudah dikoordinasikan selama beberapa hari oleh mereka. Dengan sengaja aku mengikuti pemberitaan di beberapa media yang memuat tentang segala hal mengenai revisi undang-undang ketenagakerjaan yang akan ditentang oleh ayahku beserta teman-temannya.
"Pasal 142 ayat 1 : Mogok kerja yang dilakukan tidak memenuhi ketentuan adalah mogok kerja tidak sah.
Revisi : Mogok kerja tidak sah dapat di PHK tanpa pesangon"
.

"Jangan kamu liatin ke ibumu ya, hasil print berita yang kamu dapetin dari internet ini, kasian ibumu jika dia tau dampak dari demonstrasi yang akan ayah lakukan nanti, doakan saja usaha ayah ini akan berjalan lancar, ya…" reaksi ayah ketika kuperlihatkan hasil pantauanku di media atas pemberitaan revisi undang-undang ketenagakerjaan tersebut, ayah begitu mencermati setiap detail isi dan revisi undang-undang no 13 tahun 2003 itu yang benar-benar patut ditentang oleh buruh mana pun di negeri ini.

1 April 2006

Tanggal yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba, salah satu gerakan mogok kerja yang dilakukan buruh seluruh negeri ini akan dikepalai oleh ayahku sendiri, mereka bergerak serentak, bersatu dalam satu kehendak, berkumpul untuk meneriakan keadilan atas ketidakadilan yang sangat ironis. Ketidakadilan dalam sebuah sistem yang sengaja dibuat oleh pemerintah tempat mereka bernaung, ketidakadilan yang disusun oleh wakil mereka dalam parlemen kehormatan.

Yel-yel perlawanan seretak diteriakan oleh para demonstran, mereka berarak menuju rute-rute yang sudah dikoordinasikan, mulai dari kantor pusat tempat mereka bekerja, istana nagara kepresidenan sampai rute terakhir, yaitu gedung tempat para wakil terhormat mereka sebagai rakyat berkumpul membuat semua konsep revisi undang-undang yang sama sekali jauh dari keberpihakan terhadap rakyat.

Masing-masing koordinator lapangan serta merta bergantian melakukan orasi singkat menjelaskan tuntutan-tuntutan mereka. Blokade satuan polisi anti huru hara terus dengan sigap memperhatikan setiap gerak gerik para demonstran jika sewaktu-waktu bisa rusuh meski mereka sama sekali tidak menyerah walau rintik hujan sudah habis membasahi tubuh mereka, yah… hujan memang tidak akan pernah mengerti artinya perjuangan dan hak.

"Wapres : Revisi Rancangan Undang-Undang tenaga kerja jalan terus" judul berita pertama yang aku baca pada saat aku buka salah satu website berita online di warnet tempat biasa aku menghabiskan uang belanja yang biasa ibu berikan jika aku pergi ke sekolah, sengaja ku sisihkan karena aku ingin sebagai generasi muda yang besar dalam era globalisasi seperti saat ini dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah, aku tetap bisa dan tidak asing dalam hal teknologi.

Meskipun aku sama sekali tidak terlibat dalam perhelatan demonstrasi yang saat ini tengah dilakukan oleh ayahku beserta teman-teman buruhnya tapi, membaca judul dan mencoba memahami semua isi berita mengenai revisi undang-undang ketenagakerjaan tersebut, emosiku sedikit tersulut. Jadi, dimanakah pemerintahan yang berdasarkan sistem demokrasitasi ini? kemanakah makna dari demokrasi yang semuanya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat itu? terkadang aku tidak habis mengerti dengan teori-teori kebangsaan yang aku dapatkan dibangku sekolah dengan kondisi yang sering kudengar dari keluhan-keluhan ayah.

****************************

Hari ini, udara pagi semakin terasa dingin, lagi-lagi aku berfikir, apakah ini dampak dari isu pemanasan global?kotaku tidak pernah merasakan udara sampai sedingin ini sebelumnya, yah… semua berubah tanpa pesan, tapi kehidupanku sekeluarga tidak berubah, ayah terus bekerja sebagai buruh kontrak dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya.

Ayah terkena PHK dari tempat kerjanya dulu, tanpa diberikan pesangon ataupun basa-basi sekedarnya sebagai tanda loyalitas selama terpaksa menjadi karyawan kontrak dari perusahaan. Beliau dikeluarkan sebelum waktunya karena dituduh sebagai pembelot karena menggerakkan karyawan lain untuk berdemonstrasi pada 1 April lalu.

Revisi undang-undang yang sempat membawa malapetaka bagi ayah, benar-benar sudah di syahkan, perjuangan ayah beserta teman-temannya sama sekali tidak berpengaruh bagi pemerintah dimana seharusnya melindungi rakyatnya, khususnya rakyat kecil yang benar-benar butuh untuk mendapatkan perlindungan lebih. Perjuangan ayah beserta teman-temannya sama sekali tidak berpengaruh bagi wakil-wakil mereka di parlemen, suara lantang mereka sama sekali tidak terdengar, meskipun barangkali ayah beserta teman-teman buruhnya yang lain adalah penyumbang suara bagi salah satu wakil mereka tersebut yang tengah duduk terhormat digedung perwakilan rakyat. Bapak-bapak, Ibu-ibu… kalian sudah mempermainkan nasib ayahku, kami sekeluarga, dan seluruh buruh tak berdaya berserta seluruh keluarga mereka, juga.

>>>> kutipan

*http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/31/time/233227/idnews/568444/idkanal/10

*http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/29/time/115439/idnews/568444/idkanal/10

Malam ini…

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 12:40 am on Thursday, February 28, 2008

Malam ini kami lewati seperti biasanya, dengan sapaan mesra melalui telpon selular…

Kadang sesekali hadir kata-kata yang menghadirkan tawa renyah, menghangatkan suasana diantara kami…

Tapi kadang hadir banyak kata yang dapat membakar sebagian emosi diantara kami…

Cinta, sayang, cemburu, kesal, marah semua beradu seketika…

Oh…Tuhan, rasa memilikiku begitu besar terhadap dirinya…

Sadarkan aku…

Mengelola Hidup

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 11:42 pm on Monday, January 28, 2008

"Selamat, anda kami nyatakan lulus dalam sidang skripsi ini, kami harapkan anda selalu menjaga nama baik almamater"

Helaan nafas dalam ucap Hamdalah mengiringi seringai senyumku ketika ketua penguji skripsi membacakan kertas berita acara hasil pengujian mereka terhadap skripsiku.

Sebelumnya dalam perasaan yang tidak menentu sehabis tiga orang penguji itu puas menyidangkan skripsiku, mereka memintaku keluar dari ruangan sidang dengan alasan hendak merundingkan nilai dan status yang pantas untuk kusanding setelahnya, dan itu diakui sebagai prosedur dari prosesi sidang.

Proses yang cukup panjang untuk merangkum sebuah karya tulis dalam bentuk skripsi itu ditentukan hanya dalam tempo waktu yang sangat singkat dalam ruang sidang, bisa dikatakan nasib seorang mahasiswa penentuannya adalah dalam prosesi persidangan tersebut (jika melalui proses skripsi).

Jatah kursiku dalam bangku perkuliahan secara otomatis hilang seketika setelah aku mendengar status kelulusanku atas sidang skripsi tadi, artinya aku bukan mahasiswa lagi yang harus meluangkan sebagian waktuku untuk duduk, mendengar, memperhatikan, mengerjakan tugas dari para dosen dengan kemampuan akademiknya masing-masing mengajar dan membimbing aku.

Dan sekaligus tanggung jawabku sebagai seorang anak dari kedua orangtuaku pun telah terbayar, walaupun tidak secara langsung orangtuaku menuntutnya, namun ada sebuah kewajiban yang terpikul dalam pundakku sebagai anak mereka untuk sekedar membahagiakan raut muka mereka dengan status sarjana ekonomi yang aku sandang dalam kelulusan sidang skripsiku.

Menghadapi dua universitas berbeda selama 5 tahun masa perkuliahanku lengkap dengan masa cuti selama 1 tahun yang terpaksa kupilih sebelum memutuskan pindah di universitas kedua tempatku untuk mengakhiri status kemahasiswaanku ini terasa cukup melelahkan, karena waktuku sebagai mahasiswa harus dipaksa berkompromi dengan statusku sebagai karyawan dikantor tempat kubekerja sampai saat ini.

Melelahkan namun cukup menyenangkan, walau kadang kala kondisi fisik yang tidak bisa berkompromi satu sama lain dengan tugas-tugasku sebagai mahasiswa maupun sebagai karyawan cukup membuatku kewalahan menghadapi kesehatan tubuhku.

Memutuskan untuk hidup mandiri diawal usia 20 tahun dengan memisahkan diri dari keluarga dengan jarak yang cukup jauh, mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, namun hasil perenungan dipertambahan usiaku kini, aku seakan bermimpi masih bisa bertahan sampai hari ini, sendiri dan jauh dari keluarga.

Apalagi dengan statusku kini yang bukan lagi mahasiswa, yang secara tidak langsung berarti bahwa aku sudah bukan lagi tanggungan keluarga dalam arti orangtuaku, yah barangkali begitulah kebiasaan budaya dalam masyarakat Indonesia pada umumnya.

Barangkali beginilah hidup, untuk menjadi seorang yang berfikir terkadang memang harus diberikan suatu kondisi yang bisa membuatnya berada dalam suatu tekanan hebat dalam prosesi hidupnya, minimal untuk menjadikannya lebih dewasa, semoga.

Terimakasih Tuhan, aku diberikan kesempatan ini, dan terimakasih mama dan papa aku diberikan kepercayaan untuk "mengelola" hidupku sendiri diusia mudaku, meski kulihat kalian sebetulnya tidak ingin melepasku, kalian orangtua yang hebat meski papa harus sedikit berbenturan dengan budaya patriarkinya yang sangat kental. i love u ma and pa.

Pengamen Itu…

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 9:04 pm on Monday, September 3, 2007

Badannya kurus, bahkan bisa dibilang kurus kering, warna kulitnya coklat pekat terbakar matahari, pakaiannya lusuh. Seutuhnya, penampilannya sangat kumal, jenis kelaminnnya laki2, ber"profesi" sebagai pengamen. Melihat perawakannya, laki-laki ini berkisar antara usia 15 sampai 18 tahun-an, usia yang masih muda tentunya.

Jika kita coba jabarkan dengan mengambil latar belakang perekonomian, usia laki-laki tersebut seharusnya masuk dalam kategori usia produktif sebagai salah satu unsur faktor produksi: sumber daya manusia, yang mampu menghasilkan sebuah komoditas yang dapat menjadi pendapatan, baik untuk lingkungan pribadinya, umumnya lingkungan negaranya sebagai salah satu unsur dalam Pendapatan Nasional (PNB).

Tapi, pada kenyataannya: profesinya hanyalah sebagai pengamen, meminta-minta belas kasihan para penumpang angkutan umum atas kualitas suaranya yang sangat jauh dari artis profesional, memelas dengan mengandalkan penampilannya yang bertubuh kurus kering. Sangat memprihatinkan.

Seandainya, laki-laki tersebut memiliki kehidupan yang lebih layak, minimal dapat mengecap jenjang pendidikan sampai kemampuannya dapat tergali atau kreativitasnya dapat terpicu, barangkali dia tidak akan sepasrah hari-harinya kini, naik-turun dari satu angkutan umum ke angkutan umum lain, bernyanyi dengan suara yang sangat seadanya.

Seandainya, laki-laki tersebut ditakdirkan lahir di negara yang memberikan fasilitas yang pantas bagi rakyatnya untuk merasakan asiknya bangku sekolah dengan lingkungan pendidikan yang baik, barangkali kulit coklat pekat terbakar matahari selama lebih dari 18 tahun hidupnya kini tidak akan semakin kelam terlihat, atau mungkin tubuh kurus keringnya tidak akan semakin membuat cacing-cacing dalam perutnya terus meronta-ronta memohon makanan dari hasil nyanyiannya.

Urat-urat tenggorokannya semakin nyata terlihat disekitar lehernya, seiring nyanyiannya yang memasuki nada tinggi. Tatapannya kosong mengarah jendela bis yang sedang aku naiki. Tepukan tangannya tak kalah giat berusaha mengiringi nyanyian gentar demi sesuap nasi.

Inikah bentuk aplikasi dari Undang-Undang Dasar 1945 bahwa: "fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara"? bisik batinku.

aku?

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 11:55 pm on Wednesday, August 22, 2007

Aku bukan seorang Kapiten, dengan pedang panjang yang siap menghukum semua musuh.

Aku bukan Doraemon yang memiliki kantung ajaib untuk bisa mengeluarkan semua kehendak.

Aku bukan BIN, dengan ilmu intelegennya dapat membuntuti setiap orang sampai mengetahui rahasia-rahasia sampai detail.

Aku bukan Kahlil Gibran yang mampu menciptakan kata-kata puitis yang begitu menyentuh.

Aku hanyalah aku…

Ya… aku ini!

Makna

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 7:05 pm on Wednesday, July 18, 2007

Ada sebuah kalimat bijak yang hampir telupakan dalam benak saya akhir-akhir ini, kalimat itu berbunyi "hidup adalah memaknai".

Kalimat bijak itu saya dengar dari seorang traine dalam sebuah acara pelatihan yang diperuntukan bagi calon-calon pemimpin sebuah organisasi yang sempat saya ikuti, kalo diingat-ingat pelatihan itu dilaksanakan sekitaran tahun 2003 yang lalu.

Kalimat itu singkat, simple dan sekejab telinga mendengar barangkali tak akan langsung tertangkap maknanya. Namun jika terekam terus dalam otak dan jika mau saja meluangkan sedikit waktu untuk sekadar mendalami makna kalimat itu, ada sebuah filosofi hidup yang cukup menarik didalamnya.

Memaknai setiap detik, waktu yang kita lalui dalam hidup, dalam hal apa saja, dalam bidang apa saja, dan dengan siapa saja. Idealnya selalu berbuat baik, berusaha menyenangkan setiap orang–siapapun.

Agak sulit barangkali, jika kita sadari bahwa kita adalah manusia yang bagaimanapun memiliki sejuta rasa. Ada kelelahan, ada keinginan untuk timbal-balik, belum lagi kelabilan yang setiap saat dapat merubah apapun yang sudah terencana.

Tapi, itu lah "seni"nya hidup, filosofi yang bisa dijadikan alasan untuk berpijak bisa terinspirasi dari siapapun, apapun. Tetap yang menjalani adalah pribadi kita sendiri, cara kita sendiri, sistem yang kita bentuk sendiri.

sejarah

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 12:13 am on Thursday, June 21, 2007

Kosan - subuh

Mata masih dalam kondisi sepet, susah kompromi dengan suara dering sms handphone… kucek-kucek dikit

dan…

pesan singkat yang betul-betul singkat dengan hanya 3 rangkaian kata… tapi mampu memanjangkan sorot mata gw yang sebelumnya masih sepet banget.

"Yoki udah nikah"

Isi sms yang amat sangat singkat itu, tanpa basa-basi kalimat sapaan standar, apalagi kalimat penutup.

Sejarah memang tidak mungkin akan dapat hilang dari memori siapapun, baik itu sejarah negara apalagi sejarah hidup seorang pribadi manusia. Ya seperti nama dalam isi sms yang singkat tersebut, nama itu adalah bagian dari sejarah hidup gw.

Ketika berbicara sejarah, kaitannya pasti dengan masa lalu, yah misalnya seperti sejarah RI jika menyebutkan sebuah nama seperti Soekarno dan Hatta -masa lalu Ri toh- tapi sangat memiliki andil besar dalam pembentukan sejarah RI sampai detik ini.

Singkat cerita nama yang tersebut dalam sms disubuh buta itu adalah mantan gw yang sudah berlalu, dan dia adalah salah satu mahkluk yang sempat menggoreskan sebuah kisah dalam kehidupan gw dulu.

Ya banyak nasehat bijak yang pernah dilayangkan. bahwa masa lalu sebaiknya tidak diingat-ingat kembali, apalagi jika bersangkutan dengan urusan hati, tapi bagi gw beda -kita bisa ada dalam hari ini karena masa lalu itu, namun sejauh mana kita dapat mengkondisikan keterkaitan masa lalu itu dengan masa saat ini yang sedang kita jalani.

Seperti RI, tanpa ada nama yang tersebut diparagraf atas (Soekarno dan Hatta), barangkali tidak akan ada masa seperti saat ini yang tengah kita alami.

Seburuk apapun sejarah kehidupan, dan semanis apapun sejarah itu tergores keberadaannya dapat dijadikan penopang kesuksesan dimasa mendatang. Anggap saja ini hanya kepercayaan dalam filosofi hidup gw yang belum tentu difahami dan dimengerti semua orang… wkkkkk

Peace ah

Nambah Umur

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 9:52 pm on Monday, June 18, 2007

Beberapa ucapan yang dilayangkan lewat sms, testimonial friendster, telpon, juga ucapan secara langsung mewarnai pergantian usia gw, tepatnya kemarin.

Satu hari sudah terlewati.

Perubahan kuantitas dalam usia yang akan terus mewarnai perjalanan hidup seharusnya dapat merubah tatanan kedewasaan dalam bersikap juga berfikir, dan seharusnya bisa semakin bijak dalam mengambil keputusan… itu renungan ideal

Tapi gw cuman manusia yang gak lepas dari semua rasa penasaran akan sesuatu, kelabilan yang selalu hadir dalam saat yang gak tepat, kegilaan akan sebuah tindakan diluar logika, dan lainnya… dan lainnya…

24 tahun lewat 1 hari yang lalu, Ibu dengan perjuangannya yang panjang mempertaruhkan seluruh nyawanya demi sebuah nyawa baru yang telah Tuhan titipkan dalam rahimnya, ayah berkumandang dalam lantunan indah Adzan, merdu dan dekat dengan daun telinga mungil gw.

Waktu gak mungkin akan kembali kemasa lampau yang telah terlewati. Harapan dan cita2 harus tetap bersemayam dalam diri, meski dalam perjalanannya ada yang terlewati, bahkan mungkin ternodai, tapi ada masa mendatang yang bisa lebih dimaknai. Semoga

Makasih buat semua keluarga, sahabat, juga teman atas doa… semakin memberikan nyawa baru dalam prosesi yang barangkali masih panjang atau bahkan hampir singkat ini.

Mabuk

Filed under: Uncategorized — hennymusril at 11:30 pm on Monday, June 4, 2007

Secepat kilat Gogon mengambil kepalan uang kertas yang Inul sodorkan padanya, sekadar kata-kata basa basi terucap dari mulut bau Gogon yang sudah lebih dari entah berapa tahun tak pernah bersentuhan dengan sikap gigi apalagi pasta gigi, ditambah dengan asupan alkohol oplosan, sama sekali aroma mulut Gogon tak sedap untuk bercampur dengan udara yang sewaktu-waktu bisa terhirup oleh siapapun.

"terimakasih mbak yang manis, semoga mbak dikasih rejeki yang berlimpah sama Tuhan mbak", basa basi Gogon yang semakin membuat Inul risih dengan keberadaannya. Urakan, bau, gigi hitam-hitam, gaya bicara mabuk, dan pengangguran yang hanya bisa meminta-minta, begitu mengesankan seorang kriminal.

Inul terlihat masih sekidit tidak nyaman dengan kehadiran Gogon dalam bus yang tengah ditumpanginya. Gogon masih saja asik dengan ocehannya, mirip seperti "jurus pendekar mabuk" yang pernah Inul tonton dalam film "Drugen Master. Terlihat banyak diantara penumpang yang secara spontan menutup hidungnya, berusaha menghindari aroma tubuh dan mulut Gogon yang terus mengoceh tidak jelas. "Heran koq kernet ini bus bukannya ngusir orang mabok ini ya" gerutu Inul yang tak berdaya akan keberadaan Gogon.

Gogon sadar jika dia adalah sampah masyarakat, pada seusianya yang sudah memasuki angka 2 sama sekali tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak dikategorikan sebagai pendapatan akan keringatnya, Gogon hanya seorang pemuda pengangguran bahkan dapat dikategorikan sebagai seorang pengemis dan tentu saja pemabuk.

"Hah… gw cuman dapet seceng doank dari cewek cakep tadi…hik… kagak ape2 dah yang penting seceng…hik" gumam Gogon mendapati penghasilannya dalam bus yang ditumpangi Inul tadi sambil bergaya seperti pendekar mabuk. Dalam hati sebenarnya Gogon sangat menyesali kehidupannya saat ini, apalagi jika memori masa lalu berkelibat dalam bayangannya, keluarga yang kumplit serta kehidupan yang layak. Tapi Gogon ketika itu sama sekali tak bisa memanfaatkan semua kelayakan hidupnya, Gogon hanya asik dengan pergaulan tak terbatasnya, Gogon hanya sibuk dengan psikotoprikanya. Sampai tiba waktunya keluarga Gogon tak mampu membendung semua kenakalan si bungsu Gogon.

Ketika itu Gogon tertangkap, bui selama 5 tahun menjadi kamar barunya, menggantikan semua kemewahan dan kelayakan yang biasa didapatinya ketika masih dirumah, dan kekecewaan keluarga menanamkan rasa bersalah pada diri Gogon, sehingga membuat Gogon memilih menghindar dari keluarganya. Dan kini hampir 3 tahun berlalu setelah bui yang menemaninya selama 5 tahun sudah dilaluinya.

Diantara rasa bersalah, Gogon yang lengkap dengan rasa putus asa, hanya mampu melanjutkan kebiasaan mabuknya, dengan mengemis. Sungguh sia-sia

Next Page »